Dam Tempur terletak di Padukuhan Ngelos, Bimomartani, Kalasan, Sleman. Struktur Dam Tempur adalah struktur yang dibangun untuk membendung Sungai Gendol dan air yang dibendung kemudian disadap ke saluran irigasi. Dam atau Bendung melayani Daerah Irigasi Tuk. Kuning yang dikelola oleh BBWS Serayu Opak. Luas daerah irigasi yang dilayani Bendung Tempur berdasarkan Kepmen 293 tahun 2014 yaitu 264 ha namun karena melintasi dua Kabupaten di dua propinsi yaitu Kabupaten Sleman (DIY) dan Kabupaten Klaten (Jateng) maka bendung dan daerah irigasi ini menjadi kewenangan pusat, dalam hal ini pengelolaannya oleh BBWS Serayu Opak.
Struktur tersebut memiliki tinggi 4.25 m, lebar puncak 1,6 m, dan panjang 55.6 m. Struktur dam terbuat dari bahan beton dan lapisan luar dilapisi dengan batu kali. Dam Temput memiliki dua saluran irigasi yang berada di sebelah barat (kiri) dan timur (kanan). Struktur Dam Tempur memiliki empat pintu intake (pintu masuk air) yang terbuat dari bahan logam. Pintu intake digerakan secara manual dengan cara memutar roda gigi.
Air untuk saluran irigasi sebelah barat dialirkan ke dalam sebuah saluran tertutup yang ada berada di atas bendung. Sementara satu pintu lain berfungsi sebagai saluran pelimpah endapan supaya endapan yang terbawa arus tidak menumpuk di kedua pintu saluran air. Untuk saluran irigasi sebelah timur, air masuk ke dalam sebuah saluran tertutup yang ada berada di atas bendung. Pada dinding dam, terdapat prasasti marmer dan terdapat tulisan yang terbaca sebagai berikut :
S.O. RANDOE GOENTING
TJANDISEWOE
DAM TEMPOER
1923
Berdasarkan prasasti yang ada, dam tersebut dibangun pada tahun 1924 oleh Suikeronderneming atau perkebunan tebu Randugunting. Perkebunan tebu tersebut merupakan bagian dari Koloniale Bank yang diakusisi dari A.F. Klaring pada tahun 1895.
Pada awal bulan Agustus tahun 1924, di rumah Residen Yogyakarta diadakan pertemuan antara pihak Koloniale Bank (yang diwakili oleh Van Holst Pellekaan, Mac Donald, dan Hellendoorn) dengan asisten residen, controleur Yogya, bupati Sleman, Bupati Kalasan, dan dr. Offringa dari Rumah Sakit Petronella. Pertemuan tersebut membahas tentang rencana Koloniale Bank yang akan membagikan sebagian keuntungan pabrik gula milik mereka (PG Randungunting, PG Medari, dan PG Sendangpitu) untuk sejumlah program sosial di Yogyakarta. Beberapa program yang dimaksud yakni pendirian bank desa untuk usaha Tempurrnakan, pendirian Ambatchschool atau sekolah pertukangan di Sleman, perbaikan rumah sakit pembantu di Medari dan Bedoyo, pendirian balai pertemuan desa, dan pendirian beberapa bendung permanen untuk masyarakat.
Salah satu jejak program sosial Koloniale Bank yang masih ada adalah bendung permanen yang awalnya dimaksudkan untuk kepentingan perkebunan tebu. Ladang tebu harus dialiri dengan saluran irigasi yang baik supaya air senantiasa mengaliri tanaman tebu yang rakus air. Sumber air irigasi disadap dari sungai yang sudah dibendung oleh dam. Pada perkembangan selanjutnya, pembangunan saluran irigasi juga menyasar untuk masyarakat sekitar karena belum tersedianya sarana irigasi di wilayah timur Yogyakarta. Selama ini, air untuk ladang penduduk masih mengandalkan air hujan atau bendung semi-permanen yang harus berulangkali diperbaiki.
Struktur Dam Tempur telah ditetapkan sebagai struktur cagar budaya dengan SK Bupati NomorĀ 79.5/Kep.KDH/A/2021 tahap V pada tanggal 27 Desember 2021.
StatusĀ Kepemilikan/ Pengelolaan : Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak
