BALONG : Kisah Leluhur dari Rawa Lumpur

August 27, 2025

DAPOBUD-OPK: Tradisi Lisan,

Padukuhan Balong di Kalurahan Bimomartani, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Padukuhan Balong berdekatan dengan lokasi kediaman Ki Ageng Wonolelo. Menurut informasi dari Bapak Martono (68 tahun) dan juga Bapak H. Cipto Suwarno (71 tahun), keduanya warga Padukuhan Balong, Ki Ageng Wonolelo pernah singgah di Padukuhan Balong yang dibuktikan dengan adanya petilasan berupa Watu Jaran dan Watu Lètèr. Dua petilasan ini terdapat di Padukuhan Balong dan berada di dua lokasi yang berbeda.

Watu Jaran berada di dekat sumber air yang terletak di Padukuhan Balong. Menurut Bapak Martono, Watu Jaran digunakan Ki Ageng Wonolelo untuk menempatkan kudanya ketika beliau mengambil air wudhu di sumber air. Cerita yang berkembang di masyarakat setempat, petilasan Watu Jaran diyakini memiliki kekuatan mistis. Masyarakat sekitar tidak berani memindahkan atau menghancurkannya. Pernah terjadi suatu ketika dilaksanakan pembangunan talud di sekitar sumber air, ada salah seorang warga dengan gagah berani berupaya menghancurkan Watu Jaran tersebut. Secara kebetulan, tidak kurang dari satu bulan, warga tersebut menderita sakit hingga menemui ajalnya.

Petilasan lainnya yang dinamakan Watu Lètèr terletak di sisi barat Padukuhan Balong. Watu Lètèr diyakini masyarakat setempat pernah digunakan untuk melaksanakan sholat oleh Ki Ageng Wonolelo. Watu Lètèr berada di sebidang tanah yang ditumbuhi tanaman lengki. Tanaman lengki yang bertajuk seperti semak dengan batang yang tidak besar juga memiliki aura tersendiri. Menurut Bapak H. Cipto Suwarno, seorang warga yang menebang tanaman lengki di sekitar Watu Lètèr juga mengalami nasib yang sama dengan warga yang menghancurkan Watu Jaran.

Sebelum menjadi padukuhan dan ditempati penduduk, Padukuhan Balong merupakan sebuah daerah alas dengan pepohonan yang lebat. Berbagai tanaman tumbuh subur di daerah ini. Di sisi tenggara dikepung rawa-rawa. Menurut Bapak Sunarto (62 tahun), rawa-rawa ini adalah rawa berlumpur yang dihuni oleh berbagai hewan-hewan yang berbahaya. Liang-liang ular, landak, dan kalajengking mengakibatkan rawa lumpur ini dihindari. Selain dihuni oleh binatang berbahaya, rawa lumpur ini juga dikenal angker yang dihuni makhluk tidak kasat mata.

Masih menurut Bapak Sunarto, cikal bakal Padukuhan Balong yang bernama Mpu Bawang memulai babat alas. Selanjutnya, keberadaan makam tua tanpa tahun dengan nisan yang berbeda dengan nisan-nisan lainnya menjadi saksi perjalanan sebuah tempat yang pada awalnya berupa alas berawa ini. Makam tertua tersebut diyakini sebagai cikal bakal penduduk Padukuhan Balong. Menurut narasumber lainnya, Sunarya (46 tahun) Dukuh Balong saat ini, makam ini dipercaya sebagai makam Mpu Bawang Sang Cikal Bakal.

Diperoleh informasi dari Bapak Sunarto bahwa Mpu Bawang adalah seorang ulama yang memiliki tugas mengajarkan ajaran agama. Berdasarkan kisah yang diceritakan oleh orang tua narasumber, Mpu Bawang masih keturunan dari Keraton Yogyakarta. Dikisahkan oleh orang tua narasumber, Mpu Bawang mempunyai nama asli Hadi Brata Kusuma. Sebagai seorang ulama, Mpu Bawang mengajarkan ajaran-ajaran agama. Perjuangan babat alas yang dilakukan tentu saja tidaklah mudah. Membuka lahan berupa alas berawa dan angker memerlukan kecakapan lahir batin. Kecakapan batin yang dimiliki Mpu Bawang terbukti mampu menjadikan alas berawa tersebut menjadi permukiman yang baik.

Mpu Bawang mempunyai tiga orang santri, bernama Panjalu, Jangkung, dan Putih. Ketiga santri tersebut ikut bermukim dan menetap di lokasi dimana Mpu Bawang berada. Seiring dengan tugasnya sebagai ulama yang menyebarkan ajaran agama, Mpu Bawang memiliki santri- santri semakin banyak yang belajar agama kepadanya. Para murid tersebut ada yang menetap dan tinggal di sekitar daerah yang dihuni oleh Mpu Bawang. Kegiatan keagamaan berlangsung di daerah permukiman tempat Mpu Bawang menetap.

Terdapat dua versi terkait hubungan Mpu Bawang atau Hadi Brata Kusuma dengan Ki Ageng Wonolelo. Versi pertama, yaitu adanya kegiatan keagamaan yang dilakukan Mpu Bawang beserta para muridnya berkaitan dengan dua petilasan Ki Ageng Wonolelo yang ada di daerah tersebut. Menurut Bapak Martono dan Bapak H. Cipto Suwarno, di dekat sumber mata air di dekat rawa terdapat petilasan yang dinamai dengan Watu Jaran. Menurut narasumber tersebut, petilasan ini digunakan oleh Ki Ageng Wonolelo untuk menyancang kudanya disaat beliau mengambil air wudhu di salah satu sumber air. Kemudian, Petilasan kedua berupa Watu Lètèr. Watu Lètèr berwujud batu dengan permukaan rata yang pernah digunakan oleh Ki Ageng Wonolelo untuk mendirikan sholat. Watu Lètèr terletak di salah satu sudut padukuhan yang banyak ditumbuhi tanaman lengki.

Versi kedua menurut Bapak Sunarto, Watu Jaran terletak di pinggir Kali Tepus yang mengalir di sisi barat. Lokasi ini jika ditarik garis lurus juga akan se arah dengan lokasi petilasan Watu Lètèr. Selain kedua petilasan ini, ada pula dua tempat spesial yang masih segaris di pinggir Kali Tepus, yaitu Tapak Gareng dan Kedhung Lanang.

Narasumber tersebut menggarisbawahi bahwa petilasan yang pernah disinggahi Ki Ageng Wonolelo adalah Kedhung Lanang. Menurut cerita leluhurnya secara turun temurun, Ki Ageng Wonolelo pernah memanfaatkan Kedhung Lanang untuk mandi ketika terjadi kesulitan air.

Adanya petilasan-petilasan Ki Ageng Wonolelo di daerah ini menunjukkan kedekatan antara Mpu Bawang dan Ki Ageng Wonolelo. Keduanya sama-sama berjuang di jalan agama. Mengajak warga sekitar untuk lebih mendekat- kan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berdasarkan sumber tertulis yang dimiliki oleh Bapak Sunarto, disebutkan bahwa batas sebelah selatan daerah ini adalah Padukuhan Wonolelo tempat dimana Ki Ageng Wonolelo tinggal.

Aktivitas Mpu Bawang dalam mengajarkan ajaran agama menarik perhatian murid-muridnya untuk bermukim di sekitar kediaman Mpu Bawang. Mereka berguru dan kemudian hidup berkeluarga di daerah tersebut. Daerah yang semula berupa hutan berawa-rawa, akhirnya menjadi permukiman. Rawa-rawa yang oleh warga disebut ledhok dengan mata air berlumpur menjadi kekhasan. Mata air berlumpur yang dikenal dengan sebutan Mbêl ini ditumbuhi tanaman mendong. Tanaman mendong pada umumnya menghuni daerah rawa dan dimanfaatkan untuk membuat tikar tradisional.

Banyaknya sumber mata air yang penuh lumpur dan familiar dinamakan Mbêl, menjadikan daerah permukiman ini akhirnya dikenal dengan nama Balong. Dialek masyarakat Jawa dalam keseharian lebih mudah mengucapkan dengan nama Mbalong. Potensi sumber air lumpur yang kaya akan tanaman mendong pernah menjadi bahan komoditas utama berupa tikar mendong. Seiring perjalanan waktu, kebiasaan penduduk memanfaatkan tanaman mendong untuk dibuat tikar semakin menghilang. Pada saat ini, Mbêl yang dulu banyak ditanami mendong beralih fungsi menjadi kolam ikan.

Selain rawa Mbêl yang berlumpur, di Padukuhan Balong juga terdapat banyak sumber air bersih. Sumber air bersih ini oleh warga sekitar dinamakan dengan sebutan belik. Ada tiga belik besar yang dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Belik-belik tersebut yaitu: 1,) Belik Jangkang, 2) Belik Pace, dan 3) Belik Randusari. Ketiga belik tersebut dinamai sesuai dengan keberadaannya. Belik Jangkang berada di bawah naungan pohon jangkang, Belik Pace berada di bawah naungan pohon pace, dan Belik Randusari di bawah naungan pohon randu.

Menurut kamus Baoesastra Djawa karya W.J.S. Poerwadarminta yang terbit pada tahun 1939, kata balong memiliki arti kawasan yang penuh air. Dengan demikian penamaan Padukuhan Balong didasarkan pada kondisi alamnya saat itu yang berawa-rawa dan memiliki banyak sumber air. Sekarang, penduduk di Padukuhan Balong memanfaatkan rawa Mbêl itu menjadi kolam-kolam ikan.

Sumber-sumber air bersih yang ada juga turut dirasakan manfaatnya oleh Padukuhan-Padukuhan sekitar Padukuhan Balong. Pada musim kemarau, Padukuhan-Padukuhan di sekitar Padukuhan Balong mengalirkan air bersih dari sumber mata air yang ada di Padukuhan Balong. Beberapa sumber mata air di Padukuhan Balong selalu mengalir walaupun musim kemarau berlangsung.

Peralihan nama menjadi Padukuhan Balong, menurut sumber tertulis terjadi ketika terjadi perubahan tatanan pemerintahan besar-besaran. Perubahan nama-nama perangkat pemerintahan menyebabkan berganti pula nama-nama daerah pemerintahannya. Dalam sumber tertulis disebutkan pada bait ke-9, yaitu:

Kalurahan Jatisari
Wonten jaman perubahan
Lurah lan kamitrane
Jaman bekel wis sirna
Bekel hamong tan tama
Kuli lanceng indeng-indeng
Gumanti para-para lurah desa
(Sumber: Sunarto)

Pada bait tersebut diterangkan bahwa bekel sebagai mitra lurah telah berganti nama sesuai dengan aturan yang berlaku. Bekel berubah menjadi dukuh yang menjadi bagian dari kalurahan. Demikian lah daerah Balong kemudian menjadi Padukuhan Balong sesuai dengan perubahan yang terjadi. Menurut sumber tersebut, Padukuhan Balong masih menjadi bagian dari Kalurahan Jatisari. Pada masa sekarang, Kalurahan Jatisari menjadi Kalurahan Bimomartani.

Kisah mengapa Hadi Brata Kusuma menggunakan nama Mpu Bawang masih menyimpan misteri. Lokasi kediamannya tidak lagi teridentifikasi. Petilasan yang dapat ditemui adalah makam beliau, istri, dan ketiga muridnya. Silsilah yang mengemuka bahwa Mpu Bawang masih bertalian saudara dengan Mpu Giring, cikal bakal Wonolelo merupakan informasi yang menarik. Kesetiaan Mpu Bawang kepada istrinya walaupun tidak memiliki keturunan juga sebuah contoh romansa yang indah.

Tempat-tempat khusus sepanjang Kali Tepus secara berurutan Watu Leter, Watu Jaran, Tapak Gareng, dan Kedhung Lanang seolah menanti dijamah dan dikuak cerita klasik di baliknya. Ledhok Mbêl yang sekarang dikelola oleh karang taruna untuk perikanan termasuk jarang dirambah warga. Rasa enggan untuk merambah tempat-tempat bersejarah itu tentu saja disebabkan oleh sesuatu hal.

Cerita turun-temurun yang mengisahkan keangkeran tempat-tempat tersebut menjadikan akses ke lokasi tertutup. Warga enggan memasuki tempat-tempat penting berkaitan dengan sejarah berdirinya padukuhan. Efek baiknya, tempat istimewa tersebut terjaga keberadaannya. Oleh karena itu, potensi-potensi istimewa Padukuhan Balong masih terjaga untuk diberdayakan. Potensi yang melimpah ruah menjadi aset berharga untuk dikembangkan di masa depan, sehingga generasi muda tidak tercerabut dari akarnya.

 

Penulis : Indriyani Voluntiri Azis